Dani dan motornya
01.38Sore itu seorang remaja yang isi kepalanya dipenuhi oleh sejuta pertanyaan tentang hidup sedang merenung di sebuah kafe kecil di persimpangan kota. Sebuah pertanyaan yang kerap muncul di pikirannya tentang betapa kejamnya hidup yang sedang ia rasakan di seperempat umurnya. Kenapa hidup ini begitu kejam? Kenapa tidak ada yang memperhatikannya? Kenapa tidak ada seorang pun yang menolongnya? Satu pertanyaan yang bercabang dan tidak berkesudahan, yang sudah lama tidak ia temui jawabannya.
"Bukankah kita ini adalah makhluk sosial? Kenapa disaat motorku mogok tidak ada satupun yang mau menolongku? Padahal sering kali aku menolong mereka yang sedang mogok. Kenapa Tuhan tidak menepati janjinya?" Gumamnya sambil meneguk segelas kopi aren yang sedang ngetrend. Hari itu adalah hari yang sial menurutnya. Dan kesialan itu sebenarnya dia sendiri yang menciptakannya. Dia malas untuk mengisi bensin hanya karena tidak ingin mengantri. Dia selalu menyalahkan orang lain dan suka membanding bandingkan perbuatan baiknya dengan orang lain. Dia memang tidak pernah mengambil hikmah atas setiap kejadian yang dialaminya. Wajar saja, remaja. Rasa ingin tahunya tinggi, tapi tidak ingin bersusah payah.
Hingga setengah jam dia habiskan untuk bergumam dan menyalahkan orang lain. Akhirnya remaja itu melanjutkan perjalanannya dan kembali mendorong motornya.
Setelah melewati lampu merah persimpangan kota, terdengar klakson yang terus berbunyi dan mengganggunya. "Dan! Woi dani!" Seseorang meneriaki nya dari belakang. Kemudian remaja itu menoleh dan senyum semringah. "Anton.. Weh gw kira siapa yang ngelaksonin dari tadi" Kata dani.
"Ajegile.. Diklaksonin dari tadi kaga nengok. Tadi di lampu merah gue liat lu lagi dorong motor. Kata gue, kayanya gue kenal nih sama helm item ala ala anak indie". Ujar anton kepada dani.
" Sorry ton, gue kira jalanan macet gara gara gue"
"Hahaha Sa ae.. Mogok tah dan?" Tanya anton.
"Bensin gue abis cuk.. Pom bensin masih jauh kan?" Kata dani.
"Weh, noh di belakang lo ada pom bensin mini. Ga keliatan tah?" Ujar anton sambil menunjuk pom bensin mini yang sudah dilewati oleh mereka berdua.
"Oh iya.. Ga keliatan ton hahaha"
"Udah lo puter balik, terus nyebrang. Gue bantu dorong lu deh" Sahut anton sambil memberi bantuan kepada dani. "Sekalian gue mau bayar utang senin kemarin, gocap kan?" Tanya anton.
"Iye juga ya.. Oh iya gue pernah minjemin duit ke lo. Anjir gue lupa. Yaudah ton, tolong ya"
Sore itu dani telah di tolong oleh Tuhan melalui anton yang pernah meminjam uang kepadanya. Sebenarnya senin kemarin maksudnya adalah senin bulan kemarin. Anton hanya menyadarkan dani yang sedang tidak fokus karena terus menyalahkan orang lain. Sehingga pom bensin mini yang dekat dengannya tidak terlihat sama sekali oleh dani.
Dan akhirnya satu pikiran dani terbuka. Bahwa seharusnya di saat genting seperti ini dani harus fokus dan yakin kepada pertolongan Tuhan. Bukannya terus bergumam dan membuatnya kehilangan konsentrasi. Dan dani meyakini bahwa pertolongan Tuhan akan selalu datang. Meskipun menurutnya sedikit terlambat.
0 komentar