Untitled
01.11
Jum'at, 4 Oktober 2019
Hari itu aku pulang kerja agak malam dari biasanya, yaitu seusai waktu maghrib tiba. Malam itu pergi ke suatu ekspedisi pengiriman barang untuk mengirim buku kepada teman baruku, Rita di Lampung. Seusai mengirimkan paket buku, aku langsung bergegas pulang ke rumah untuk beristirahat. Karena hari ini aku merasa sangat lelah, usai bekerja hampir seharian.
Namun di tengah perjalanan aku berubah pikiran. Aku langsung bertolak ke sebuah minimarket untuk melihat tempat yang nantinya akan kudirikan warung kopi. Namun ternyata, sampai hari ini tempat tersebut sudah di tempati oleh usaha lain.
Tak jauh dari minimarket itu, aku teringat pada sebuah tempat ngopi yang dari segi penampilannya cukup menarik. Namanya padepokan kopi kaloran. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menghentikan motor tepat di depan padepokan kopi. Aku mulai memesan kopi tubruk bali. Kupilih biji kopi itu secara acak. Karena aku belum tahu apa perbedaan dari semua biji kopi yang tersedia.
Tanpa menunggu lama, kopi pun siap untuk disuguhkan kepadaku. Dan akupun mulai membuka pembicaraan. Dalam hati aku berkata, sayang sekali, tempat seindah ini sangat sepi pengunjungnya. Oh mungkin saja hari ini sedang sepi. Mungkin besok, atau lusa, tempat ini akan ramai oleh pengunjung yang ingin menikmati kopi dengan santai. Herdi, nama pemilik kopipun mengatakan. Kini persaingan bisnis kedai kopi sangat ketat. Hampir semua orang di sekitar lingkungannya, juga mulai membuka kedai kopi. Mulai dari yang sederhana, sampai kafe berlantai dua. Akupun berkata, ya namanya juga usaha mas, kadang ramai, kadang sepi. Persaingan itu wajar.
Hampir setengah jam aku meneguk secangkir kopi pahit bali. Kini saatnya aku pulang ke rumah.
Di sepanjang perjalanan, efek kopi mulai terasa. Jantungku mulai berdegup kencang seakan ingin meledak. Benar saja, sepanjang perjalanan, emosiku meledak-ledak. Aku mulai memarahi diriku sendiri. Yang kian hari, kian tidak jelas kemana arahnya. Benar kata bapak. Aku tidak jelas, dan bapak tidak mengerti apa yang aku pikirkan.
Aku tidak menjadi sarjana. Tidak pula bekerja di tempat yang gajinya besar. Aku selalu menebar mimpi kepada teman-teman. Tidak juga memiliki pasangan. Keinginan menikah hanya menjadi cemoohan karena beberapa faktor yang tidak mereka percayai. Mereka mulai tidak mempercayaiku. Dan aku hanya mengutuk diriku sebagai pembual yang besar. Dan akupun bertanya kepada diriku. Akankah aku mati, meninggalkan mimpi-mimpi besar, dan tidak menjadi siapa-siapa? Gila, segala pikiran negatif itu selalu menghantuiku.
Hampir satu jam aku memarahi diriku sendiri di atas motor tua pemberian Bapak. Biarpun ini terkesan putus asa, setidaknya aku sudah merasa lega. Dan setibanya dirumah, aku selalu menampakkan senyum manis kepada Ibu Tiriku. Aku tidak ingin kemarahan itu sampai kepadanya. Aku hanya ingin melihatnya tersenyum, meskipun aku sendiri yang harus menangis semalaman di atas ranjang empuk yang berantakan.
Hampir satu jam aku memarahi diriku sendiri di atas motor tua pemberian Bapak. Biarpun ini terkesan putus asa, setidaknya aku sudah merasa lega. Dan setibanya dirumah, aku selalu menampakkan senyum manis kepada Ibu Tiriku. Aku tidak ingin kemarahan itu sampai kepadanya. Aku hanya ingin melihatnya tersenyum, meskipun aku sendiri yang harus menangis semalaman di atas ranjang empuk yang berantakan.
Seperti biasanya, aku selalu mengatakan kepada diriku sendiri. Aku harus bertanggung jawab atas masalah yang menimpaku. Aku harus bertanggung jawab atas emosiku. Dan akan aku buktikan, kalau mimpiku, tidak hanya sekedar mimpi.
***
***
Sepanjang perjalanan aku menyanyikan lagu peterpan - tertinggal waktu. Dan aku berjanji, tidak akan membiarkan mimpiku tetap mimpi. Akan kubuktikan sekarang juga.
0 komentar