Terbalik 180 derajat
01.00
Sehari menjelang kelulusan SMP, ayahku bertanya kepadaku. Katanya "kamu mau masuk SMA mana? SMA, SMEA atau STM?". Setelah pertanyaan itu keluar, muncul juga pertanyaan dalam diriku. "Aku ini kalau sudah besar ingin menjadi apa? mengikuti jejak ayah menjadi engineer, atau menekuni hobi di bidang komputer tidak seperti siapapun"
Hari berikutnya aku baru menjawab. Sudah kuputuskan, aku ingin menekuni hobiku di bidang komputer. Oleh karena itu aku ingin masuk sekolah favorit yang mana teh dewi (kakakku) adalah salah satu alumnusnya. Seketika raut wajah ayah berubah seakan kecewa. Namun, lantas ia berbesar hati. Ia tidak ingin memaksakan keinginan anaknya.
Keputusan yang kubuat saat ini berbanding terbalik dengan keinginan ayah yang mencetak anak-anaknya untuk menjadi seorang engineer seperti dirinya. Aku bermodalkan ego yang kubawa, aku tetap ingin mengembangkan bakatku di bidang komputer, terutama Multimedia.
Inilah yang kubawa sampai saat ini. Kini aku bekerja di sebuah percetakan yang menurut ayah, gajiku tidak akan mampu membiayai kuliah dan hidup sehari-hari. Namun aku senang bekerja sebagai desainer grafis karena hobi. Tidak hanya itu, aku juga menyukai videography yang kusalurkan pada channel youtube. Bekerja sesuai hobi dan bakat adalah keinginanku. Selain itu, suatu hari aku ingin menunjukkan kepada Ayah, kalau aku mampu membangun perusahaan percetakan milikku sendiri.
Terbalik 180 derajat, kearah yang lebih baik. Aamiin.
1 komentar
Baca ini, saya ngerasa saya juga seperti itu... semoga sukses...
BalasHapus