Mendadak jurnalis

09.36

Sejak gadget menjadi barang murah dan mudah didapatkan, entah kenapa aku selalu memperhatikan orang-orang yang seperti kecanduan terhadap gadgetnya. Setiap detik, setiap menit, setiap hari bahkan setiap tahun, hanya dihabiskan untuk bercumbu dengan si seksi yang pintar. Dengan sejuta fitur yang dihadirkan, gadget dapat melalaikan waktu kita.

Luar biasa...

Sobat blogger, menulis cerita ini bukan berarti aku ingin mencela kebiasaan mereka dan memposisikan diri sebagai orang yang paling benar. Aku sadar, bahwa sampai detik ini aku turut menjadi pecandu gadget. Kemajuan teknologi dan modernisasi mana mungkin kita tolak?

Aku sangat menyayangkan, gadget yang seharusnya membuat kita semakin smart, malah semakin membuat kita harus menjadi sosok yang selalu terlihat baik di media sosial. Setiap hari kita selalu memposting foto-foto liburan yang menyenangkan, menceritakan kejadian buruk dalam hidup kita, sampai menggosipi teman yang menyebalkan. Padahal sebenarnya itu sangat berbahaya bagi hidup kita bila gosip tersebut sampai kepadanya. 

Bahkan kini semua orang mendadak menjadi jurnalis. Setiap ada kejadian yang menarik di depan matanya, selalu ada rasa ingin merekam lalu mempublikasikannya. Berharap apa yang kita publish menjadi viral dan menaikkan reputasi kita. Kini semua orang mendadak pandai mengambil gambar, video dan menulis redaksi berita bak reporter tv sungguhan. Sehingga kini kita tidak lagi merasa kekurangan informasi. Kebanjiran informasi adalah realita yang terjadi saat ini.

Tidak peduli terhadap korban kecelakaan lalu lintas yang hampir meninggal karena pendarahan. Bagi mereka, viral lebih utama daripada harus menolongnya terlebih dahulu. Tidak peduli menikmati konser musik dengan khidmat. Dokumentasi lebih penting daripada menikmati alunan live music. 

Menulis cerita ini sungguh menguras emosi. Tapi inilah faktanya. Aku ingin sembuh, dan sedang berusaha sembuh.

You Might Also Like

0 komentar

Like us on Facebook