Menjelang Sepasang
16.18
Beberapa minggu yang lalu aku mengajak seorang perempuan yang baru aku kenali di kantor menabung untuk masa depan. Yaitu menikah. Malam itu, di kedai kopi milik temanku Mas Ancas, dengan maksud awal ingin membayar mesin grinder kopi yang aku beli darinya, aku ajak dia untuk mencicipi racikan kopi dari kedai Mas Ancas.
Awalnya kami hanya membicarakan tentang bagaimana tentang tempat kerja kami. Hingga pada akhirnya muncul lah niatan aku yang sudah aku rancang sedemikian rupa dan aku siap menanggung resikonya.
Secara terang terangan aku mengatakan "yuk kita nabung, untuk masa depan". Seketika dia terkejut dan berhenti menyeruput kopi Affogato yang tenggelam bersama suasana di kedai kopi yang hangat. Kemudian dia memintaku untuk memperjelas apa maksudnya menabung untuk masa depan. Lalu ku lanjutkan dengan satu kata "Menikah".
Semakin kaget, dan aku semakin gugup. Karena ungkapan ini tanggung jawabnya adalah berat. Aku mendeklarasikan diri siap untuk menjadi suaminya. Menerima segala kekurangannya dan siap menanggung masa lalunya.
Sama halnya dia. Aku adalah tipikal laki-laki yang selalu mengatakan suatu hal "to the point". Langsung pada intinya. Aku tidak suka bertele-tele dan tidak suka bermain-main pada hal yang serius dan jangka panjang. Seperti halnya kedai kopi yang akan aku rilis bulan Januari 2020 nanti. Aku sudah mempersiapkannya secara matang. Meskipun aku mengatakannya secara mendadak.
Hasilnya bisa kutebak. Ya, dia mau dan ingin serius menabung untuk menikah di tahun depan.
0 komentar