Kamis siang, seusai makan dan bersantai dibawah pohon jambu, aku melanjutkan membaca buku seni untuk bersikap bodo amat di ruang produksi digital. Tiba tiba, muncul lah sosok robot berkulit bersuara cepat, temanku Ilmi. Sambil keheranan, dia menatapku tajam. Katanya. "Widih, belajar bro?". Ya yang kau lihat sekarang aku sedang apa dodol!.
Ilmi melanjutkan langkahnya. Membuang beban berat dalam hidupnya, di dalam WC yang sempit.
Lantas terbesit dalam pikiranku. Iya ya. Tumben aku belajar dan membaca buku. Padahal sejak SMA jangankan membaca buku. Nulis pelajaran aja males banget. Enakan ngabisin duit di warnet.
Sepertinya aku sedang kerasukan setan pecandu buku. Alhamdulillah. Kesambet yang baik baik.