Di bawah langit bintuni
10.08Sebulan sebelum pergi ke Papua, aku seperti memiliki perasaan yang mengganjal di dada. Sesak hingga selalu terbawa pikiran hingga larut malam. Mungkin karena aku merasa punya banyak salah kepada teman-teman. Atau mungkin ada masalah yang belum aku selesaikan. Hingga suatu hari aku meminta maaf kepada semua teman, jika aku memiliki banyak salah. Meskipun kusampaikan lewat pesan whatsapp, tapi ungkapan maaf itu tulus dari hati. Aku seakan ingin berpisah jauh dari mereka semua, selamanya.
Hingga suatu hari aku masih teringat kenangan tentangnya. Dan tentang masalah dengannya yang belum ku selesaikan. Soal keputusan menjauh darinya hingga berbulan bulan lamanya. Kabar yang kudengar dari temannya, dia sangat membenciku. Bahkan surat yang kemarin ku kirimkan, enggan ia baca. Sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk mengirim pesan singkat di whatsapp, dan menanyakan kabarnya. Namun ia menjawab singkat bahkan tidak peduli dengan kabarku hari ini. Tak lama kemudian, dia menelponku. Dan yang bicara adalah tunangannya. Ku jawab pertanyaan darinya dan beberapa pertanyaan ku lemparkan. Seperti kapan nikah, dan siapa namanya. Dia sengaja merencanakan ini agar aku sakit hati dan kembali mengingatnya.
Tidak. Justru dengan ku tahu kabarnya dan ku pastikan rumor kedekatannya dengan pria baru, membuatku lebih tenang dan seketika aku melupakan kejadian saat bersamanya. Mungkin itu adalah salah satu yang mengganjal darinya.
Setelah telepon itu berakhir, aku mengirim pesan panjang kepadanya. Aku mengucapkan maaf jika selama ini aku pernah salah. Dan berjanji tidak akan menggangu mereka lagi.
Aku pernah mencintainya. Namun Tuhan menginginkanku agar tidak bersamanya. Aku hanya berdoa agar pria yang sedang bersamanya tidak memiliki sifat jelek seperti yang aku miliki saat bersamanya.
Terimakasih pernah hadir dalam hidupku, dan menjadi bagian cerita di bawah langit bintuni. Ini pembukaan.
0 komentar