"Tumben", kataku kepada Adin, Sambil meletakkan bungkus rokok berwarna putih berlogo merah yang kian hari kian laris di pasaran.
Temanku yang satu ini mungkin sedang mengalami frustasi akibat dicampakkan oleh pacarnya pada malam minggu kemarin.
"Iya nih ca, duh frustasi gue". Sambungnya. Tangannya bersafari mendekati bungkus rokok milikku, lalu menyalakannya di hadapanku.
Tadi siang dia baru saja mulai kembali merokok. Setelah 5 tahun lamanya tidak berinvestasi racun ke tubuhnya.
Adin, rekan kerjaku bercerita panjang soal masalah percintaannya. Ia di campakkan di depan pacarnya. Pacarnya menggandeng pria berusia 25 tahun di depannya, di depan rumah Nca yang kini menjadi mantan pacarnya. Sungguh menyebalkan. Dan sungguh menyedihkan bila ku jadi dirinya.
Aku mengerti perasaannya. Betapa sakitnya bila dicampakkan oleh pacar dihadapannya. Rasanya seperti dipukul 265 kali tepat di perutnya. Sakit namun tidak berdarah.
Ia melampiaskan kemarahannya pada sebungkus rokok milikku. Sial. Kali ini dia hampir menghabiskannya. Bagiku, sah sah saja cara orang bertanggung jawab atas masalahnya. Dulu aku pun demikian sama persisnya seperti dia saat ini. Bodoh! Kata sahabatku Arin.
Aku mulai berinvestasi racun ke tubuhku sejak masalah yang kian datang bak kereta batu bara yang panjang. Gerbongnya tak habis habis melewatiku. Sebuah tindakan konyol. Padahal dulu aku kian gencar memarahi perokok dan produsen rokok di Indonesia. Boleh dibilang aku adalah aktivis anti rokok. Namun kini aku menelan ludahku sendiri, dan beralih menjadi perokok aktif.
Menurutku, sah sah saja seseorang melampiaskan kemarahannya. Namun tidak dengan cara menyakiti diri sendiri.
Aku masih meyakini kalau rokok itu adalah racun. Merokok di depan orang yang tidak merokok, sama saja meracuni mereka secara perlahan-lahan.
Dan aku teringat pada sebuah artikel yang memuat tentang alasan penulis tersebut merokok. Di akhir tulisan, dia mengatakan. "Cigarette is classy way to suicide". Artinya kurang lebih adalah "rokok adalah jalan sederhana untuk bunuh diri". Benar. Mungkin rokok adalah pilihan untuk orang yang sudah tidak menghargai hidupnya. Mereka ingin merasakan sakit yang serupa dengan orang lain. Dan tidak ingin berlama lama hidup di dunia.
Bodoh! Ujar Arin sahabatku.